Sejarah Organisasi


BACKGROUND ORGANISASI

Terbukanya jalan Trans Kalimantan  yang melintasi Desa Korek, Kecamatan Sungai Ambawang awal tahun 2009 tidak saja menempatkan kawasan itu sebagai kawasan strategis, tetapi juga sekaligus ancaman bagi masyarakat Adat Dayak Kanayatn/Salako yang mendiami kawasan tersebut.

Banyak tanah dan lahan kini dikuasi pemodal dari luar, sementara warga setempat hanya menjadi penonton atau paling beruntung menjadi buruh harian dengan penghasilan rendah di perternakan ayam, sawmil, kebun sawit dan rumah walet.

Minimnya pengetahuan mengelola sumber daya menyebabkan sebagian besar warganya tidak dapat memanfaatkan tanah yang tersisa untuk pertanian dan letak yang strategis tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan sayur mayur dan lauk pauk,  dan serta seperti ikan mereka terpaksa membeli kepada pedagang dari kota Pontianak. Sedangkan hutan yang selama ini menjadi supermarket sejak beberapa tahun silam musnah.

Beberapa warga pernah berusaha membudidayakan ikan, terutama clarias (ikan lele), namun selalu gagal karena tingkat keasaman dan kandungan logam di dalam air sungai dan parit cukup tinggi. Bahkan untuk kebutuhan air bersih,  warga Korek bergantung pada air hujan.

Keprihatinan inilah yang mendorong sekelompok orang muda Korek mendirikan komunitas Mata Kelik. Antara lain mendorong kesadaran warga lokal bahwa kondisi tersebut dapat dirubah melalui ilmu pengetahuan. Antra lain dengan cara belajar bersama dan berfikir kreatif.  Apalagi kini akses informasi dan transportasi terbuka lua.

Mata Kelik memulai dengan kelompok diskusi dan membuat depot budidaya ikan air tawar, khususnya jenis lele sebagai media belajar dan sekaligus meningkatkan ekonomi berbasis komunitas untuk sesama anggota.

Visi
Menjadi Inspirasi Kampung

Misi
Masyarakat kampung yang mandiri, kreativ dan belajar dari kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

PHILOSOPY & MAKNA NAMA  
Mata Kelik pertama kali dicetuskan oleh Alexander Mering. Dalam bahasa Inggris Mata Kelik disebut catfish eyes atau mata lele (bahasa Jawa), Mata Kale’ (Salako). Kata 'Kelik' diadaptasi dari bahasa Dayak Iban, yang dalam bahasa Yunani disebut claros, yang artinya lincah dan kuat. Lele juga adalah makluk noctrunal yang malah semakin lincah di malam hari.

LOGO
LogoMata Kelik Adalah, Gambar  eyes smart clariasyang distilir


 

0 comments:

Post a Comment